|

Bahlil Ungkap Tantangan Energi Nasional di Musda Golkar Sulut, Soroti Ketergantungan Impor hingga Gejolak Global

Bahlil Ungkap Tantangan Energi Nasional di Musda Golkar Sulut, Soroti Ketergantungan Impor hingga Gejolak Global

Manado —  FajarInvestigasinews.my.id

Kunjungan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar di kawasan Grand Kawanua, Sabtu (11/4/2026), tidak sekadar bernuansa politik. Di hadapan ribuan kader, Bahlil justru membuka tabir tantangan besar sektor energi nasional yang kian komplex.

Dalam sambutannya, Bahlil lebih dulu mengapresiasi Sulawesi Utara sebagai daerah yang memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa. Ia menyebut, kontribusi tokoh-tokoh asal Sulut menjadi kebanggaan nasional yang patut dijaga.

Namun, di balik pujian tersebut, Bahlil mengingatkan realitas yang jauh lebih krusial: tingginya kebutuhan energi nasional yang masih menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah. Ia membeberkan, konsumsi bensin nasional saat ini mencapai sekitar 40 juta kiloliter per tahun, sementara solar berada di kisaran 38 hingga 39 juta kiloliter, dan LPG menyentuh angka 8,6 juta ton.

“Angka ini menunjukkan betapa besarnya tekanan terhadap sektor energi kita,” tegasnya.

Menurut Bahlil, pemerintah tidak tinggal diam. Upaya menekan ketergantungan impor terus dilakukan melalui penguatan kapasitas produksi dalam negeri. Salah satu langkah strategis yang mulai menunjukkan hasil adalah pengembangan kilang minyak melalui proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kalimantan Timur.

Melalui proyek tersebut, lanjutnya, Indonesia kini mampu memproduksi hingga 4,6 juta kiloliter solar dan 5,7 juta kiloliter bensin. Capaian ini dinilai sebagai langkah awal menuju kemandirian energi yang selama ini menjadi target jangka panjang pemerintah.

Di sisi lain, Bahlil juga menyoroti tekanan eksternal yang tidak kalah berat. Ia mengungkapkan bahwa kondisi geopolitik global yang tidak stabil kerap memicu lonjakan harga energi dunia. Situasi ini berpotensi berdampak langsung terhadap ekonomi nasional.

Meski demikian, ia memastikan bahwa stabilitas harga BBM dan LPG di dalam negeri tetap terjaga. Menurutnya, hal tersebut bukan terjadi secara kebetulan, melainkan hasil dari strategi terukur pemerintah dalam mengelola impor serta meningkatkan produksi domestik.

“Ini adalah hasil kerja keras dan terobosan besar. Kita tidak hanya mengandalkan impor, tetapi juga memperkuat produksi sendiri,” ujarnya.

Bahlil menegaskan, kombinasi antara pembangunan kilang baru dan diversifikasi sumber pasokan menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan energi nasional. Dengan langkah tersebut, Indonesia dinilai masih mampu menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga energi global.

Pimpinan David

Berita Terkait